Beranda / Artikel Pendidikan / MEMPERKUAT KEMAMPUAN EKSEKUSI DENGAN “RAPDE”

MEMPERKUAT KEMAMPUAN EKSEKUSI DENGAN “RAPDE”

MEMPERKUAT KEMAMPUAN EKSEKUSI DENGAN “RAPDE”

Oleh: Dr. Ir. Hary T. Budhyono, MBA (Anggota Dewan Pakar ASESI).

Alhamdulillah.  Segala puji bagi Allah Ta’ala, yang karena nikmat-nikmat-Nya maka sempurnalah segala amal-amal sholeh.   Atas berkat pertolongan-Nya tulisan ini dapat penulis selesaikan.  Semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan memotivasi kita untuk menyempurnakan penyerahan tanggung jawab dan amanah yang diberikan kepada kita. Amanah dari Allah dan manusia.

Kegiatan eksekusi di sebuah organisasi mempunyai porsi sebanyak 90% sementara itu kegiatan perencanan atau stratejik (termasuk taktik)  hanya 10% dari seluruh kegiatan operasional yang dilakukan organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya.  Namun kenyataannya, konon hampir 65% pemimpin organisasi bisnis dunia kurang percaya diri bahwa organisasinya mempunyai kemampuan menutupi kesenjangan (gap) antara strategi dan eksekusinya.  Juga diketahui bahwa 90%   organisasi gagal dalam mengeksekusi strategi-strateginya dengan sukses.

Melihat fenomena ini, muncul sebuah pertanyaan bagaimana kemampuan eksekusi pada organisasi bisnis ataupun organisasi non-profit yang berbasiskan Islam? Hasil pengalaman penulis menunjukkan bahwa kemampuan eksekusi mereka jauh dibawah angka 65% itu dan masih terpusat pada pimpinan tertinggi di organisasi tersebut.  Lapis manajemen kedua dan seterusnya sangat lemah kemampuan eksekusinya. Disisi lain masih banyak para pemimpin organisasi, khususnya organisasi bisnis dan manajernya yang belum mengorientasikan praktik dan hasil eksekusinya hanya untuk mencari Ridha Allah Ta’ala, mendapatkan kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat kelak.

Untuk itulah penulis mengembangkan dan telah dipraktikkan dengan sukses  sebuah konsep, teori, dan teknik pemecahan masalah serta pengambilan keputusan terbaik dalam membuat rencana aksi dan eksekusi yang menjamin kebahagiaan/kemenangan di dunia dan akhirat, yang dinamakan sebagai Rencana Aksi Perbaikan dan Disiplin Eksekusi  atau disingkat RAPDE.

Eksekusi adalah menempatkan sesuatu sampai terealisasi nyata. Eksekusi dapat berbentuk tindakan yang efektif atau tindakan yang merusak (destrucitive).  Seseorang belum dikatakan telah mengeksekusi perencanaan atau strategi bahkan taktiknya apabila realisasinya belum terwujud.  Realisasi adalah jantung hati dari kegiatan eksekusi.   Sementara itu manajemen eksekusi dapat didefinisikan adalah serangkaian kegiatan pelaksanaan dari alat-alat dan proses-proses manajemen untuk menterjemahkan strategi dan perencanaan yang ditetapkan ke dalam sebuah kenyataan atau realitas yang didambakan harus terwujud.

Penulis juga memahami pengertian manajemen adalah sebagai kegiatan terstruktur dan sistematik untuk mencapai tujuan dan mengandung dua kata yang tak terpisahkan yaitu: “Keteraturan dan Perbaikan”.  Kegiatan eksekusi lebih banyak difokuskan kearah perbaikan, yaitu apa yang harus diambil oleh seorang pegawai, manajer, dan pemimpin organisasi dalam mengelola operasi perusahaannya untuk mencapai tujuan-tujuannya. Perbaikan juga merupakan kegiatan “hijrah” dari kondisi saat ini yang buruk/tidak benar menuju kearah yang lebih baik dan benar menurut prinsip-prinsip Islam (PPI) atau syariat Islam.

Sedikitnya ada lima dalil dalam Alquran dan As Sunnah yang penulis jadikan landasan utama dalam mengembangkan dan menerapkan RAPDE yaitu:

  1. Segala yang dilakukan kita di dunia ini tidak boleh menyimpang sedikitpun dari garis TUJUAN penciptaan manusia di dunia seperti yang telah diperintahkan Allah  dalam  firman-Nya yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).
  2. Segala urusan kita di dunia harus dikelola sesuai ketetapan Allah dan Rasul-Nya, seperti pada firman Allah yang artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).
  • Kita juga diperintahkan untuk mengorientasikan kehidupan kita ke negeri akhirat sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya yang artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Al Qashash: 77). Demikian pula dijelaskan dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Barang siapa menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah mencerai-beraikan urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran didepan matanya, dan ia tidak memperoleh dunia kecuali sesuai qodarnya. Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kaya dalam hatinya, dan dunia akan datang padanya dengan mudah”. (HR. Ibnu Majah No. 4105). Walaupun demikian kita juga diperintahkan untuk melakukan sebab dengan hati tetap bergantung kepada Allah, sebagaimana firman-Nya yang artinya “Apabila shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah banyak-banyak supaya engkau beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

 

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa RAPDE termasuk sebuah teknik pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang menjamin kesuksesan atau kemenganan yang abadi.  Karena secara konsep dan pelaksanaannya ditujukan untuk: i)  mendapatkan ridha Allah Ta’ala; ii) menjadikan ketetapan Allah dan Rasul-Nya sebagai hukum dan ketentuan tertinggi dalam menjalankan kehidupan kita atau operasional organisasi, dan iii) menjadikan  setiap eksekusi yang diambil diorientasikan untuk kebahagian/kemenangan dunia dan akhirat. Konsep dan pelaksanaan RAPDE secara lebih rinci dapat dilihat pada bagan berikut dan penjelasan tujuh tahap pelaksanaannya.

Bagan tahapan dalam memantapkan RAPDE

Tujuh tahapan pekerjaan RAPDE yaitu:

  1. Rumuskan Kondisi Saat Ini (KSI) yang terjadi secara benar dan tepat.

KSI merupakan sebuah gambaran nyata yang terjadi dari pencapaian kinerja baik atau buruk yang anda capai saat ini dibandingkan dengan ukuran-ukuran kinerja target, yang menjadi beban anda untuk dicapai.  Kinerja baik terjadi apabila ada kesenjangan  kinerja positif yang dicapai anda saat ini melampaui (di atas) dari ukuran-ukuran kinerja target yang harus anda capai. Kinerja yang seperti ini dikatakan sebagai sebuah prestasi dan terus berusaha untuk dijaga serta ditingkatkan. Kinerja buruk terjadi apabila ada kesenjangan kinerja negatif yang dicapai anda saat ini berada di bawah dari ukuran-ukuran kinerja target yang harus anda capai.  Kedua kinerja ini merupakan KSI yang telah dihasilkan dan perlu dilakukan perubahan apakah akan ditingkatkan atau dilakukan perbaikan untuk menuju sebuah kondisi dambakan (KD) anda atau organisasi dimana anda berkarya.

Dalam merumuskan KSI harus memenuhi kriteria  SMART (specific, measurable, achievable, reasonable, dan time bounding) sehingga dapat menggambarkan secara tepat KSI yang sesungguhnya terjadi. Sebab apabila salah dalam merumuskannya maka tahap perumusan berikutnya pasti akan salah.

Pada tahap ini, untuk mendapatkan bahwa apa yang kita lakukan hanya diniatkan untuk mencapai ridha Allah Ta’ala maka perlu juga dianalisis apakah dalam mencapai KSI  telah sesuai dengan PPI yang mulia atau malah kita banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan.  Kondisi penyimpangan ini juga harus dirumuskan sebagai KSI yang juga perlu diperbaiki kinerjanya.

Sebagai satu contoh perumusan KSI dalam RAPDE adalah “Jumlah siswa kelas 12 SMA dari sekolah Sunnah yang berakhlak mulia dan berhasil  masuk 10 besar perguruan tinggi di Indonesia hanya 10% pada tahun ini.”

  1. Tetapkan Kondisi yang Didambakan (KD) yang perlu diwujudkan.

Kondisi dambaan (KD) merupakan gambaran nyata dan terukur dari sebuah kondisi ideal yang didambakan harus terwujud. KD dapat dikatakan sebagai tujuan-tujuan akhir (goals) yang harus terwujud sebagai hasil perubahan dari kegiatan peningkatan dan perbaikan yang dilakukan. Sebagai tujuan akhir KD juga harus dipahami sebagai pernyataan yang luas tentang pengharapan jangka panjang dari anda atau organisasi mengenai apa yang seharusnya terjadi sebagai hasil dari kegiatan perubahan yang dilakukan.  KD harus dirumuskan searah dengan niat hanya untuk mencapai ridha Allah Ta’ala.  Bukan hanya untuk meningkatkan atau memperbaiki KSI yang hanya kasat mata terlihat dan berhubungan langsung dengan kinerja “duniawi” anda dan organisasi anda, yaitu hasil penjualan. Seperti contoh di tahap pertama. KD juga harus dirumuskan untuk menyelesaikan akar masalah (tahap empat) penyebab KSI yang menyimpang dari PPI.

Contoh rumusan KD dalam RAPDE adalah  “Jumlah siswa kelas 12 SMA dari sekolah Sunnah yang berakhlaq mulia dan berhasil  masuk 10 besar perguruan tinggi (PT) di Indonesia meningkat 30% dari tahun pelajaran (TP) sebelumnya.”

  1. Tetapkan sasaran-sasaran yang menjamin terwujudnya kondisi dambaan.

Sasaran merupakan gambaran pernyataan – pernyataan dari hasil kegiatan perubahan yang harus dicapai.  Sasaran-sasaran dalam tahap tiga ini juga harus dirumuskan sesuai kriteria  SMART dan menjadi ukuran yang jelas dan terukur yang harus dicapai dalam mewujudkan tujuan-tujuan akhir yang telah ditetapkan pada tahap kedua.  Sasaran juga dapat dikatakan sebagai indikator kunci sukses dari tujuan-tujuan akhir yang dicapai.  Pada umumnya dalam satu tujuan akhir memerlukan lebih dari satu sasaran.

Contoh rumusan sasaran dari tujuan akhir pada tahap kedua: i) 100% siswa kelas 12 dari sekolah Sunnah memenuhi standar kompetensi lulusan (SKL) yang ditetapkan dan ii) 100%guru-guru kelas 12 SMA dari sekolah Sunnah mempunyai kompetensi tinggi dalam mengajarkan program belajar masuk PT di Indonesia.

  1. Identifikasikan akar masalah penyebab kondisi saat ini yang terjadi.

Dalam RAPDE, penulis mendifinisikan masalah sebagai terjadinya kesenjangan antara kinerja yang dihasilkan saat ini dan kinerja yang didambakan.  Akar masalah adalah sebuah pengertian dari penyebab–penyebab terjadinya sebuah masalah.  Untuk mengidentifikasikan akar masalah dari sebuah masalah yang terjadi dapat dilakukan dengan metode 5 Mengapa.  Dalam metode ini kata mengapa dipakai untuk mengetahui akar sebuah masalah itu terjadi. Apa apa dasar penyebabnya.   Kata “mengapa” dipakai sebanyak lima kali yang akhirnya akar masalah dapat dirumuskan secara tepat.

Ada dua analisis yang harus dilaksanakan dalam melakukan identifikasi akar masalah yaitu pertama analisis yang terkait dengan terjadinya penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan, standar-standar, etika-etika yang berlaku dan lainnya.  Kedua analisis yang terkait adanya penyimpangan terhadap PPI yang berupa kemaksiatan kepada Allah.  Misalnya kesyirikan, riya’, melakukan praktik riba, durhaka kepada orang tua, kesombongan, berbuat buruk pada tetangga, dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya serta menyelisihi Sunnah atau perbuatan bid’ah.

Contoh perumusan akar masalah dari pernyataan KSI pada tahap pertama misalnya: i) kompetensi sebagian besar guru kelas 12 SMA sekolah Sunnah belum memenuhi mengajarkan program belajar masuk PT di Indonesia; ii) kepemimpinan di hampir semua sekolah Sunnah masih terpusat pada tokoh sentralnya; iii) Keterampilan dan kemampuan dari  manajemen sekolah sunnah masih kurang melakukan eksekusi yang tepat  dan menguntungkan organisasi serta para pemangku kepentingan lainnya; dan beberapa akar masala lainnya.

  1. Kuatkan dan jalankan rencana aksi perbaikan secara konsisten.

Tahap kelima inilah yang menjadi ‘hasil utama’ dari konsep RAPDE yang harus diwujudkan dengan tepat dan benar. Setelah diketahui KSI dan akar masalahnya serta juga KD dan sasaran-sasarannya maka tindakan-tindakan aksi apa yang harus dirancang dan dilakukan untuk menuju KD itu. RAPDE dalam tahap ini akan berisi semua tindakan aksi baik berupa peningkatan maupun perbaikan yang harus dilakukan agar KD ‘dijamin’ terwujud. Agar rumusan rencana aksi perbaikan dijamin dapat mewujudkan KD maka caranya adalah mengajukan pertanyaan tindakan aksi apa yang harus dirancang dan dilakukan agar sasaran-sasaran dapat tercapai dan juga dapat menyelesaikan dengan sukses akar masalah dari KSI.

Contoh rumusan tindakan aksi adalah: i) meningkatkan sampai 100% kompetensi semua guru kelas 12 yang mengajarkan program belajar masuk PT; ii)  100% personel manajemen, khususnya manajemen lapis ke dua dari sekolah Sunnah sukses dalam mengeksekusi perencanaan dan strateginya; dan tindakan aksi lain yang harus diambil dalam mewujudkan sasaran dan KD

  1. Lakukan eksekusi dengan seksama dan dalam tempo yang tepat.

Tahap enam ini merupakan tahap yang paling kritis karena sangat berhubungan langsung dengan kemampuan anda dan manajemen sebuah organisasi dalam mengeksekusi perencanaan dan strateginya dengan sukses.  Setiap kegiatan eksekusi (E) harus memberikan manfaat langsung dan dampak positif bagi pelanggan, perusahaan, dan pegawai (3P). Tugas utama dari  manajemen organisasi adalah merubah masalah menjadi anugerah. Dalam konsep RAPDE dilengkapi dengan tujuh kegiatan eksekusi, E1 – E7. Seperti terlihat pada bagan yang dipaparkan. Eksekusi pada tahap ini harus bertumpu pada hasil-hasil kajian dan eksekusi yang telah diambil di setiap tahapan RAPDE.  Dalam tulisan ini contoh untuk proses eksekusinya tidak diberikan.

Disamping mempertimbangankan penyelesaian masalah-masalah duniawi dalam  melakukan eksekusi harus juga mempertimbangkan apakah proses dan hasil eksekusinya sesuai dengan PPI dan juga telah diniatkan untuk mencapai ridha Allah.  Tanpa niat yang demikian maka eksekusi hanya berpengaruh pada penyelesaian masalah duniawi saja.

Proses dan hasil eksekusi yang sesuai dengan ketentuan PPI atau syariat Islam merupakan eksekusi yang berkualitas sangat tinggi atau bahkan abadi.  Karena   eksekusinya pasti menjamin kesuksesan kehidupan hakiki (termasuk aspek bisnisnya) di dunia dan kehidupan kelak di akhirat.

  1. Tingkatkan tawakkal kepada Allah Ta’ala sesuai yang diyakini Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Tahap ketujuh inilah yang paling membedakan konsep, teori, dan pelaksanaan eksekusi dari yang diajarkan pada sekolah-sekolah bisnis dunia barat.  Demikian juga pada tahap pertama sampai keenam.  Kajian dan pertimbangan harus sesuai dengan PPI atau syariat Islam merupakan rukun yang wajib dipenuhi dalam melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan dalam RAPDE.

Tahap ini pulalah yang merupakan akhir kita melalukan seluruh sebab.  Upaya-upaya yang harus dilakukan dan dipenuhi seluruh anggota badan kita. Dalam RAPDE juga dipersyaratkan ketika melakukan kegiatan tahap satu sampai tahap enam harus dilakukan secara sungguh-sungguh  dengan hati tetap bergantung kepada Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kalian…” (QS. An-Nisaa’: 71) dan juga Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah:197, yang artinya ”… Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa…”

Sebagai penutup dari tulisan ini, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.  Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Keluarganya, Sahabatnya, dan para Pengikutnya yang setia menjalankan tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir jaman.

 

www.asesi.or.id

Baca juga

PRAKTIK TERBAIK MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH DALAM MENUMBUHKAN AKHLAK (BUDI PEKERTI ?) PESERTA DIDIK

PRAKTIK TERBAIK MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH DALAM MENUMBUHKAN AKHLAK (BUDI PEKERTI ?) PESERTA DIDIK SMA PESANTREN …

Satu Komentar

  1. Jazaakallaahu kharan wa baaraakallaahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *